https://www.profitabletrustednetwork.com/pe1vwha8t?key=fa48c0b097570e95937f91d6d325180b Ilmu Yang Bermanfaat: Perencanaan Geometri Jalan

Translate

Sunday, October 18, 2026

Perencanaan Geometri Jalan

BAB I

PENDAHULUAN

 

I. 1.   Latar Belakang

Untuk membangun jalan raya yang memenuhi kebutuhan lalu lintas pada waktu ini dan masa yang akan datang, serta meningkatkan kemajuan – kemajuan teknik pengangkutan serta lalu lintas maka perlu memperdalam pengetahuan mengenai perencanaan jalan raya dapat melalui pengalaman dan penelitian.

Salah satu bagian yang penting dari perencanaan jalan adalah perencanaan geometriK jalan raya. Dalam perencanaan geometrik dapat berdasarkan pengalaman yang telah lalu dengan berdasarkan keadaan tempat untuk membuat suatu jalan yang melalui alignemen, pendakian/penurunan dan lain – lain dengan biaya yang serendah – rendahnya, bertambahnya jumlah dan kualitas kendaraan, berkembang nya pengetahuan tentang kelakuan pengandara terutama pada saat berpapasan dan meningkatkan jumlah kendaraan. Hal tersebut menjadi pertimbangan bagi perencanaan dalam memberikan pelayanan maksimum dengan keadaan bahaya minimum dengan biaya yang pantas.

Jalan raya pada umumnya dapat digolongkan dalam klasifikasi menurut fungsinya yang mana mencakup tiga golongan penting yaitu :

Ø  Jalan utama adalah jalan yang menghubungkan lalu lintas yang mencakup tinggi antara kota penting atau antara pusat – pusat eksport.

Ø  Jalan sekunder adalah jalan raya yang melayani lalu lintas yang cukup tinggi antara kota yang penting dan kota yang lebih kecil serta melayani daerah sekitarnya.

Ø  Jalan penghubung adalah jalan untuk keperluan aktivitas daerah yang dipakai sebagai jalan penghubung antara jalan – jalan dari golongan yang sama atau berlawanan.

Dalam hubungan dengan perencanaan geometrik, ketiga golongan ini dibagi dalam kelas – kelas yang menetapkannya ditentukan oleh perkiraan besarnya lalu lintas yang akan melewati jalan tersebut.

1.2.          Maksud dan Tujuan

Maksud  dari penyusunan tugas besar ini yaitu sebagai prasyarat untuk memperoleh nilai lulus pada mata kuliah Perencanaan Geometrik Jalan. Sedangkan tujuannya adalah ssebagai berikut:

 

1.     Sebagai acuan dalam pelaksanaan pembuatan jalan.

2.     Agar mampu memahami dan merencanakan sifat-sifat fisik jalan.

3.     Mampu merencanakan geometrik dan strukrtur lapisan jalan yang menghubungakan dua tempat atau lebih guna menghasilkan geometrik dan struktur jalan yang ekonomis dan dapat memberikan kelancaran, keamanan, dan kenyamanan.

4.     Merencanakan galian dan timbunan.

5.     Untuk menentukan jenis dan tebal struktur lapisan jalan dan kriteria perkerasan jalan lainnya.

 

 


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Volume lalu lintas

Volume lalu lintas yang akan menggunakan jalan  dinyatakan dalam Satuan Massa Penumpang (SMP) yang besarnya menunjukkan jumlah lalu lintas harian rata – rata untuk kedua jurusan volume LHR yang baru, untuk suatu jalan dapat langsung diperoleh pada lalu lintas pada waktu tersebut.

Klasifikasi jalan di Indonesia menurut Bina Marga dalam Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota (TPGJAK) No: 038 / T/ BM / 1997, disusun pada tabel berikut :

 

Tabel  Ketentuan Klasifikasi : Fungsi, Kelas beban, Medan.

Fungsi Jalan

ARTERI

KOLEKTOR

LOKAL

Kelas Jalan

I

II

III A

III B

III C

Muatan Sumbu

> 10

10

8

Tidak di tentukan

Terberat (ton)

Tipe Medan

D

B

G

D

B

G

D

B

G

Kemiringan

< 3

3   25

> 25

< 3

3   25

> 25

< 3

3  25

> 25

Medan (%)

 

Klasifikasi menurut wewenang pembinaan jalan (administrasi) sesuai PP.

No. 26 / 1985 : Jalan Nasional, Jalan Propinsi, Jalan Kabupaten/ Kotamadya, Jalan desa, dan Jalan khusus.

Keterangan:   Datar (D), Perbukitan (B), dan Pegunungan (G)

 

2.2. Tingkat Pelayanan Yang Diinginkan

Jalan mempunyai fungsi sebagai alat penghubung di bidang sosial, ekonomi, politik, militer dan kebudayaan.

Jalan arteri, adalah jalan yang melayani angkutan utama dengan ciri – ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata – rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien.

Jalan arteri primer, adalah jalan yang menghubungkan kota jenjang kesatu yang terletak berdampingan, atau menghubungkan kota jenjang kesatu dengan kota jenjang kedua.

 

Jalan arteri sekunder, adalah jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua.

Jalan Kolektor, adalah jalan yang melayani angkutan pengumpulan/ pembagian dengan ciri – ciri  perjalanan jarak sedang, kecepatan rata – rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.

Jalan Kolektor Primer, adalah jalan yang menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang kedua atau menghubungkan kota jenjang kedua dengan kota jenjang ketiga.

Jalan Kolektor Sekunder, adalah jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder kedua atau menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan kawasan sekunder ketiga.

Jalan Lokal, adalah jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri – ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata – rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

Jalan Lokal Primer, adalah jalan yang menghubungkan kota jenjang kesatu dengan persil atau yang menghubungkan kota jenjang ketiga dengan kota jenjang ketiga, atau dengan jenjang di bawahnya, kota jenjang ketiga dengan persil, atau kota dibawah jenjang ketiga sampai persil.

Jalan Lokal Sekunder, adalah jalan yang menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan perumahan, menghubungkan kawasan sekunder kedua dengan perumahan, kawasan sekunder ketiga dan seterusnya sampai ke perumahan.

 

2.3. Kendaraan Rencana

1.     Kendaraan Ringan / Kecil (LV)

Kendaraan ringan / kecil adalah kendaraan bermotor ber as dua dengan empat roda dan dengan as 2,0 – 3,0 ( meliputi : mobil penumpang, oplet, microbus, pick up dan truck kecil sesuai sistem klasifikasi Bina Marga).

2.     Kendaraan Sedang (MHV)

Kendaraan bermotor dengan dua gandar, dengan jarak 3,5 – 5,0 (termasuk bus kecil, truck dua as dengan enam roda, sesuai dengan klasifikasi Bina Marga).

3.     Kendaraan Berat / Besar (LB – LT)

 

 

a.        Bus besar (LB)

Bus dengan dua atau tiga gandar dengan jarak as 5,0 – 6,0 m

b.        Truck Besar (LT)

Truck tiga gandar dan truck kombinasi tiga, jarak gandar (gandar pertama ke kedua) < 3,5 m (sesuai sistem klasifikasi Bina Marga)

4.     Sepeda Motor (MC)

Kendaraan bermotor dengan 2 atau 3 ( meliputi : sepeda motor dan kendaraan roda tiga sesuai sistem klasifikasi Bina Marga)

5.     Kendaraan Tak Bermotor (UM)

Kendaraan dengan roda yang digerakkan oleh orang atau hewan (meliputi: sepeda, becak, kereta kuda, dan kereta dorong sesuai dengan klasifikasi Bina Marga)

Catatan : Kendaraan tak bermotor tidak dianggap sebagai bagian dari arus lalu lintas tetapi unsur hambatan samping.

 

Tabel. Dimensi Kendaraan Rencana

KATEGORI

DIMENSI KENDARAAN

TONJOLAN

RADIUS PUTAR

RADIUS

KENDARAAN

(cm)

(cm)

(cm)

TONJOLAN

RENCANA

Tinggi

Lebar

Panjang

Depan

Belakang

Minimum

Maksimum

( cm )

Kecil

130

210

580

90

150

420

730

780

Sedang

410

260

1210

210

240

740

1280

1410

Besar

410

260

2100

120

90

290

1400

1370

 

 

3.4. Kecepatan Rencana (VR)

VR  adalah kecepatan rencana pada suatu ruas jalan yang dipilih sebagai dasar perencanaan geometrik, jalan yang memungkinkan kendaraan – kendaraan bergerak dengan aman dan nyaman dalam kondisi cuaca yang cerah, lalu lintas yang lengang, dan pengaruh samping jalan yang tidak berarti, VR untuk masing – masing fungsi jalan dapat ditetapkan dari tabel :

 

 

 

 

 

FUNGSI JALAN

KECEPATAN RENCANA VR (Km / Jam)

DATAR

BUKIT

GUNUNG

Arteri

70 - 120

60 - 80

40 - 70

Kolektor

60 - 90

50 - 60

30 - 50

Lokal

40 - 70

30 - 50

20 - 30

 

Catatan : Untuk kondisi medan yang sulit, VR suatu segmen jalan dapat diturunkan dengan syarat bahwa penurunan tersebut tidak lebih dari 20 km / jam.

 

 

3. 5. Kelas Jalan Sesuai Fungsinya

Kelas jalan menentukan jumlah jalur dan arah pada seatu segmen jalan, untuk jalan – jalan luar kota sebagai berikut :

Ø  2  lajur 1 arah (2/1)

Ø  2 lajur 2 arah tak – terbagi (2 / 2 TB)

Ø  4 lajur 4 arah tak – terbagi (4 / 2 TB)

Ø  4 lajur 2 arah terbagi (4 / 2 B)

Ø  6 lajur 2 arah terbagi (6 / 2 B)

 

3. 6. Merencanakan Geometrik Jalan

Trase Jalan

Pada gambar trase jalan akan terlihat apakah jalan tersebut merupakan jalan lurus, menikung ke kiri, atau ke kanan. Sumbu jalan terdiri dari serangkaian garis lurus lengkung berbentuk lingkaran, atau lengkung peralihan dari bentuk garis lurus ke bentuk busur lingkaran. Perencanaan geometrik jalan menfokuskan pada pemilihan letak dan panjang dari bagian-bagian ini sesuai dengan kondisi meedan sehingga terpenuhi kebutuhan akan pengoperasian lalu lintas dan keamanan.

 

Gambar Potongan memanjang dan Melintang

 

Pada gambar potongan melintang akan terlihat apakah jalan tersebut tanpa kelandaian, mendaki, ataupun menurun. Pada perencanaan ini yang dipertimbangkan adalah bagaimana meletakkan sumbu jalan sesuai kondisi medan dengan memperhatikan sifat operasi kendaraan, keamanan, jarak pandang, dan fungsi jalan. Penampang melintang berkaitan pula dengan pekerjaan tanah yang mungkin menimbulkan galian dan timbunan.Penampang melintang jalan merupakan potongan melintang tegak lurus jalan.

Potongan melintang jalan merupakan potongan melintang tegak lurus sumbu jalan. Pada potongan melintang jalan dapat terlihat bagian – bagian jalan. Bagian – bagian jalan yang utama dapat dikelompaokkan sebagai berikut :

a.      Bagian yang langsung berguna untuk lalu lintas

Ø  Jalur lalu lintas

Ø  Lajur lalu lintas

Ø  Bahu jalan

Ø  Trotoar

Ø  Median

b.     Bagian yang berguna untuk draenase jalan

Ø  Saluran  samping

Ø  Kemirangan melintang jalur lalu lintas

Ø  Kemirangan melintang bahu

Ø  Kemiringan tegak

c.      Bagian pelengkap jalan.

Ø  Kereb

Ø  Pengaman tepi

d.     Bagian konstruksi jalan

Ø  Lapisan perkerasan jalan

Ø  Lapisan pondasi atas

Ø  Lapisan lpondasi bawah

Ø  Lapisan tanah dasar

e.      Daerah manfaat jalan (damanja)

f.      Daerah milik jalan (damija)

g.     Daerah pengawasan jalan (dawasja)

 

Penjelasan:

1.     Jalur Lalu Lintas

 

Jalur lalu lintas adalah keseluruhan bagian perkerasan jalan yang diperuntukkan untuk lalu lintas kendaraan. Jalur lalu lintas terdiri dari beberapa jalur (lane) kendaranaan. Lajur kendaraan yaitu bagian dari jalur lalu lintas yang khusus untuk dilewati oleh suatu rangkaian beroda empat atau lebih dalam satu arah. Jadi jumlah lajur minimal untuk 2 arah adalah 2 dan pada umumnya disebut sebagai jalan 2 lajur 2 arah. Jalur lalu lintas untuk 1 arah minimal 1 lajur lalu lintas.

2. Lebar Lajur Lalu Lintas

Lebar lajur lalu lintas merupakan bagian yang paling menentukan lebar melintang jalan secara keseluruhan. Besarnya lebar lajur lalu lintas hanya dapat ditentukan dengan pengamatan langsung dilapangan    karena :

Ø  Lintasan kendaraan yang satu tidak mungkin akan dapat diikuti oleh lintasan kendaraan lain dengan tepat.

Ø  Lajur lalu lintas mungkin tepat sama degan lebar kendaraan maksimum. Untuk keamanan dan kenyamanan setiap pengemudi membutuhkan ruang gerak antara kendaraan.

Ø  Lintasan kendaraan tidak mengkin dibuat tetap sejajar sumbu lajur lalu lintas, karena selama bergerak akan mengalami gaya – gaya samping seperti tidak ratanya permukaan, gaya sentritugal ditikungan, dan gaya angin akibat kendaraan lain yang menyiap.

Lebar lajur lalu lintas merupakan lebar kendaraan ditambah dengan ruang bebas antara kendaraan yang besarnya sangat ditentukan oleh keamanan dan  kenyamanan yang diharapkan. Pada jalan local (kecepatan rendah) lebar jalan minimum 5,50 m (2 x 2,75) cukup memadai untuk jalan 2 jalur dengan 2 arah. Dengan pertimbangan biaya yang tersedia, lebar 5 m pun masih diperkenankan. Jalan arteri yang direncanakan untuk kecepatan tinggi, mempunyai lebar lajur lalu lintas lebih besar dari 3,25 m sebagiknya 3,50 m.

 

3. Bahu jalan

Bahu jalan adalah jalur yang terletak berdampingan dengan jalur lalu lintas yang berfungsi sebagai berikut:

1.     Ruangan untuk tempat berhenti sementara kendaraan yang mogok atau yang sekedar berhenti untuk beristirahat.

2.     Ruangan untuk menghindarkan diri dari saat – saat  darurat, sehingga dapat mencegah terjadinya kecelakaan.

3.     Memberikan kelegaan pada pengemudi, dengan demikian dapat meningkatkan kapasilitas jalan yang bersangkutan.

4.     Memberikan sokongan pada konstruksi perkerasan jalan dari arah samping.

5.     Ruang pembantu pada waktu mengadakan pekerjaan perbaikan atau pemeliharaan jalan (tempat penempatan alat – alat  dan penimbunan material).

6.     Ruang untuk lintasan kendaraan – kendaraan  patroli, ambulans, yang sangat dibutuhkan pada keadaan darurat seperti  terjadinya kecelakaan.

 

4.     Trotoar (Jalur pejalan kaki / side walk)

Trotoar adalah jalur yang terletak berdampingan dengan jalur lalu lintas yang khusus dipergunakan untuk pelalan kaki (pedestrian). Untuk keamanan pejalan kaki maka trotoar harus dibuat terpisah dari jalur lalu lintas oleh struktur fisik berupa kereb. Lebar trotoar adalah jalur yang terletak berdampingan dengan jalur lalu lintas yang khusus dipergunakan untuk pejalan kaki yang di inginkan, dan fungsi jalan. Untuk itu lebar 1,5 – 3,0 m merupakan nilai yang umum diguanakan.

5.     Median

Pada arus lalu lintas yang tinggi sering kali dibutuhkan median guna memisahkan arus lalu lintas yang berlawanan arah. Jadi median adalah jalur yang terletak ditengah jalanyang membagi jalan dalam masing – masing arah. Lebar median bervariasi 1,0 – 12 m. median dengan lebar sampai 5 m sebaiknya ditinggikan dengan kereb atau dilengkapi dengan pembatas agar tidak dilanggar kendaraan.

Funsi Median :

Ø  Menyediakan daerah netral yang cukup lebar dimana pengemudi masih dapat mengontrol kendaraannya pada saat – saat darurat.

Ø  Menyediakan jarak yang cukup untuk membatasi / mengurangi kesilauan terhadap lampu besar dari kendaraan yang berlawanan arah.

Ø  Menambah rasa kelegaan, kenyamanan dan keindahan bagi setiap pengemudi.

Ø  Mengamankan kebebasan samping dari masing – masing arah arus lalu lintas.

 

6.     Saluran Samping

Saluran samping berbentuk trapesium atau persegi panjang. Untuk daerah perkotaan dimana daerah pembebasan jalan sudah sangat terbatas, maka saluran samping dapat dibuat persegi panjang dari konstruksi beton dan ditempatkan di bawah trotoar. Saluran samping berguna untuk :

-        Mengalirkan air dari permukaan perkerasan jalan atau pun dari bagian luar jalan.

-        Menjaga supaya konstruksi jalan selalu berada dalam keadaan kering tidak terendam air.

7.     Talud kemiringan lereng

Talud jalan umumnya dibuat 2 H : 1 V, tetapi untuk tanah – tanah yang mudah longsor talud jalan harus dibuat sesuai dengan besarnya landai yang aman. Berdasarkan keadaan tanah lokasi tersebut, mungkin saja dibuat bronjong, tembok penahan tanah, lereng bertingkat (brem) atau pun hanya ditutupi rumput saja.

8.     Kereb

Kereb adalah penonjolan atau peninggian tepi perkerasan atau bahu jalan , yang terutama dimaksudkan untuk keperluan – keperluan draenase, mencegah keluarnya kendaraan dari tepi perkerasan, dan memberikan ketegasan tepi perkerasan.

 

Jarak Pandang

Adalah suatu jarak yang diperlukan oleh seorang pengemudi pada saat mengemudi sedemikian sehingga jika pengemudi melihat suatu halangan yang membahayakan, pengemudi dapat melakukan sesuatu untuk menghidari bahaya tersebut dengan aman. Dibedakan dua Jarak Pandang, yaitu Jarak Pandang Henti (Jh) dan Jarak Pandang Mendahului (Jd).

Jarak pandang (Sight distance), ialah panjang yang diukur sepanjang garis tengah pada suatu jalur lalu lintas, dari suatu titik dengan ketinggian 100 cm di atas garis tengah ke titik terjauh dengan ketinggian 10 cm di atas garis yang sama di depan, yang dapat dilihat mata pengemudi dari tempat semula.

 

 

Jarak Pandang Henti

Jh adalah jarak minimum yang diperlukan oleh setiap pengemudi untuk menghentikan kendaraannya dengan aman begitu melihat adanya halangan di depan. Setiap titik di sepanjang jalan harus memenuhi Jh. Jh diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata pengemudi adalah 105 cm dan tinggi halangan 15 cm diukur dari permukaan jalan. Jh terdiri atas 2 elemen jarak, yaitu:

(1) jarak tanggap (Jht) adalah jarak yang ditempuh oleh kendaraan sejak pengemudi melihat suatu halangan yang menyebabkan ia harus berhenti sampai saat pengemudi menginjak rem;

(2) jarak pengereman (Jh,) adalah jarak yang dibutuhkan untuk menghentikan kendaraan sejak pengemudi menginjak rem sampai kendaraan berhenti.

Faktor-faktor yang mempengaruhi:

VR = kecepatan rencana (km/jam)

T = waktu tanggap, ditetapkan 2,5 detik

g = percepatan gravitasi, ditetapkan 9,8 m/det2

f = koefisien gesek memanjang perkerasan jalan aspal, ditetapkan 0,35-0,55.

 

Jarak Pandang Mendahului

Jd adalah jarak yang memungkinkan suatu kendaraan mendahului kendaraan lain di depannya dengan aman sampai kendaraan tersebut kembali ke lajur. Jd diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata pengemudi adalah 105 cm dan tinggi halangan adalah 105 cm.

Jd, dalam satuan meter ditentukan sebagai berikut:

Jd=dl+d2+d3+d4

dimana :

d1 = jarak yang ditempuh selama waktu tanggap (m),

d2 = jarak yang ditempuh selama mendahului sampai dengan kembali ke lajur semula (m),

d3 = jarak antara kendaraan yang mendahului dengan kendaraan yang datang dari arah berlawanan setelah proses mendahului selesai (m),

d4 = jarak yang ditempuh oleh kendaraan yang datang dari arah berlawanan, yang besarnya diambil sama dengan 213 d2 (m).

 

 

 

Merencanakan tikungan

a.               Tipe tkungan

1.     Full Circle(FC)

Adalah jenis tikungan yang hanya terdiri dari bagian suatu lingkaran saja. Tikungan FC hanya digunakan untuk jari-jari tikungan yang besar agar tidak terjadi patahan, karena dengan jari-jari kecil diperlukan superelevasi yang besar.

Syarat-syarat:

Untuk menggunakan bentuk ini adalah tergantung pada kecepatan rencana, jika sudah memenuhi yaitu dengan melihat tabel sebagai    berikut :

Kec. Rencana

120

100

80

60

40

30

Jari – Jari min.

2000

1500

1100

700

300

120

 

2. Spial-Circle-Spiral(S-C-S)

Merupakan lengkung peralihan yang dibuat untuk menghindari terjadinya perubahan alintemen yang tiba-tiba dari bentuk lurus ke bentuk lingkaran. Jadi diletakkan antara bagian lurus dan bagian lingkaran yaitu, sebelum dan sesudah tikungan berbentuk busur lingkaran.

 

3.     Spiral-Spiral(S-S)

Merupakan lengkung tanpa busur lingkaran, panjang maksimum bagian lurus haruslah ditempuh dalam waktu kurang dari 2,5 menit sesuai Vr dengan pertimbangan keselamatan pengemudi akibat kelelahan.

 

b. Superelevasi

Super elevasi adalah kemiringan melintang pada lengkung horizontal, super elevasi dirancang untuk mengimbangi gaya sentrifugal dari komponen berat kendaraan. Super elevasi ini diperoleh dengan membuat kemiringan melintang jalan.

Metode untuk melakukan super elevasi yaitu merubah lereng potongan melintang, dilakukan dengan bentuk profil dari tepi perkerasan yang dibundarkan, tetapi disarankan untuk cukup mengambil garis lurus saja, ada 3 cara untuk mendapatkan superelevasi:

    1. memutar perkerasan jalan terhadap profil sumbu
    2.  memutar perkerasan jalan terhadap tepi jalan sebelah dalam
    3. memutar perkerasan jalan terhadap tepi jalan sebelah luar

Pada kecepatan tertentu superelevasi maksimum dan asumsi dari faktor gesekan maksimum bersama – sama menenrukan jari – jari minimum yang diperoleh beberapa faktor yaitu :

a.      Kondisi cuaca

b.     Kondisi lapangan, datar atau pegunungan

c.      Tipe dari daerah pedalaman atau kota

d.     Sering terdapat kendaraan yang berjalan lambat

Superelevasi maksimum untuk jalan raya terbuka pada umumnya 0,12 dimana penggunaannya terbatas di daerah yang tidak bersalju.

Jadi, superelevasi diperlukan untuk menjaga kestabilan kendaraan saat melewati tikungan.

c. Lengkung peralihan

Lengkung peralihan ialah lengkung yang berfungsi untuk menstabilkan kendaraan ketika melewati suatu tikungan simpangan yang tajam, sehingga kendaraan masih dapat tetap berada pada lajur jalannya ketika melalui tikungan yang tajam. Bentuk lengkung peralihan dapat berupa parabola atau spiral. Panjang lengkung peralihan (Ls) ditetapkan atas pertimbangan sebagai berikut:

a.      lama waktu perjalanan di lengkung peralihan perlu dibatasi untuk menghindari kesan perubahan alinyemen yang mendadak , ditetapkan 3 detik.

b.     Gaya  sentrifugal yang bekerja pada kendaraan dapat diantisipasi berangsur-angsur pada lengkung peralihan dengan aman.

c.      Tingkat perubahan kelandaian melintang jalan dari bentuk kelandaian normal ke kelandandaian superelevasi penuh tidak boleh melampaui re-max.

Di sisi lain dengan adanya lengkung peralihan, pengemudi dapat dengan mudah mengikuti lajur yang telah disediakan untuknya, tanpa melintasi lajur lain yang berdampingan.

Beberapa keunggulan dari penggunaan lengkung peralihan pada alinyamen horizontal:

a.      Memungkinkan mengadakan perubahan dari lereng jalan normal ke kemiringan sebesar super elevasi secara berangsur-angsur, sesuai dengan gaya sentrifugal yang timbul.

b.     Memungkinkan mengadakan peralihan pelebaran perkerasan yang diperlukan dari jalan lurus ke kebutuhan lebar perkerasan pada tikungan-tikungan yang tajam.

c.      Menambah keamanan dan kenyamanan bagi pengemudi karena sedikit kemungkinan pengemudi keluar dari lajur.

d.     Menambah keindahan bentuk dari jalan tersebut, menghindari kesan patahnya jalan dari batasan bagian lurus dan lengkung busur lingkaran.

           

d.Pelebaran Pada Tikungan

 

Pelebaran pada tikungan ialah perubahan dimensi jalan menjadi lebih lebar pada daerah-daerah menikung, dimaksudkan agar ketika kendaraan membelok maka tersedia beberapa ruang untuk manufer kendaraan.

e.Landai Relatif

  1. Landai minimum

Berdasarkan kepentingan arus lalu lintas, landai ideal adalah landai datar(0%). Seballiknya ditinjau dari kepentingan drainase jalan, jalan berlandailah yang ideal, dalam perencanaan disarankan:

-        Landai datar untuk jalan-jalan di atas tanah timbunan yang tidak mempunyai kereb.

-        Landai 0,15% dianjurkan untuk jalan-jalan di atas tanah timbunan dengan medan datar dam mempergunakan kereb, kelandaian ini cukup membantu mengalirkan air hujan ke saluran pembuangan.

-        Landai minimum sebesar 0,3-0,5 % dianjurkan dipergunakan untuk jalan-jalan di daerah galain atau jalan yang memakai kereb.

  1. Landai maksimum

Kelandaian 3 % mulai memberikan pengaruh kepada gerak kendaraan mobil penumpang, walaupun tidak seberapa dibandingkan dengan gerakan kendaraan truk yang terbebani penuh. Pengaruh dari adanya kelandaian ini dapat terlihat dari berkurangnya kecepatan kendaraan.

 

Lengkung Vertikal

Lengkung vertical berfungsi pada saat pergantian dari satu kelandaian ke kelandaian yang lain. Lengkung vertical tersebut direncanakan sedemikian rupa sehingga memenuhi keamanan, kenyamanan dan drainase.

Jenis lengkung vertical dilihat dari letak titik perpotongan kedua bagian lurus (tangent), adalah:

  1. Lengkung vertikal cekung, adalah lengkung dimana titik perpotongan antara kedua tangent berada di bawah permukaan jalan.

Di samping bentuk lengkung yang berbentuk parabola sederhana, panjang lengkung vertical cekung juga harus ditentukan dengan memperhatikan : jarak penyinaran lampu kendaraan, jarak pandangan bebas di bawah bangunan, persyaratan drainase, kenyamanan mengemudi, dan keluwesan bentuk.

  1. Lengkung vertikal cembung, adalah lengkung dimana titik perpotongan antara kedua tangent berada di atas permukaan jalan yang bersangkutan.


                                               BAB III                                      

METODOLOGI PERENCANAAN

 

      

1. Penentuan data Perencanaan Geometrik

2. Penentuan Trase Jalan

3. Menentukan Klasifikasi Medan

4. Perhitungan Alinyemen Horizontal

          4.1 Menghitung dan Merencanakan Jenis Tikungan

          4.2 Menghitung Kecepatan Tikungan

          4.3 Menghitung Superelevasi Tikungan

          4.4 Menghitung pelebaran Perkerasan Tikungan

          4.5 Menghitung Jarak Pandang

          4.6 Menggambar tikungan dan superelevasi

5. Menggambar Profil Memanjang

6. Perhitungan Alinyemen Vertikal

          6.1 Menghitung Alinyemen vertical cembung.

          6.2 Menghitung Alinyemen Vertikal Cekung

7. Perhitungan Tebal Perkerasan

8. Perhitungan Galian dan Timbunan

          8.1 Menggambar Profil melintang

          8.2 Menghitung luas bidang galian dan timbunan

          8.3 Menghitung volume galian dan Timbunan

          8.4 Menghitung Volume total galian dan timbunan

9. Perhitungan Volume Material Masing- masing Jalan 

                                                BAB V
                                KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1. KESIMPULAN

Desain geometrik jalan merupakan bagian dari perencanaan jalan yang dititik-beratkan pada  perencanaan bentuk fisik sehingga dapat memenuhi fungsi dasar dari jalan. Desain geometrik jalan terdiri dari Alinyemen Horisontal dan Alinyemen Vertikal, dan masing-masingnya memiliki perhitungan tersendiri.

Geometrik jalan yang didesain dengan mempetimbangkan  masalah keselamatan dan mobilitas yang mempunyai kepentingan yang saling bertentangan, oleh karena itu kedua pertimbangan tersebut harus diseimbangkan. Mobilitas yang dipertimbangkan tidak saja menyangkut mobilitas kendaraan bermotor tetapi juga mobilitas kendaraan tidak bermotor dan pejalan kaki.

Alinemen vertikal, alinemen horizontal, dan potongan melintang jalan adalah elemen elemen jalan sebagai keluaran perencanaan hares dikoordinasikan sedemikian sehingga menghasilkan suatu bentuk jalan yang baik dalam arti memudahkan pengemudi mengemudikan kendaraannya dengan aman dan nyaman. Bentuk kesatuan ketiga elemen jalan tersebut diharapkan dapat memberikan kesan atau petunjuk kepada pengemudi akan bentuk jalan yang akan dilalui di depannya  sehingga pengemudi dapat melakukan antisipasi lebih awal.

 

5. 2. SARAN

Dalam perencanaan Geometrik Jalan  perlu diperhatikan seluruh kaidah- kaidah yang berlaku baik dalam penentuan data perencanaan geometrik, perencanaan trase jalan, penentuan galian dan timbunan, dan dalam perencanaan variabel data lainnya agar perencanaan yang dilakukan dapat menghasilkan jalan yang nyaman dilalui oleh pengemudi juga efisien dipandang dari segi ekonomi






Buat Temen-temen dalam analisa bisa menggunaan dokumen excel ini untuk menentukan perancangan trase dan keamanan rancangan  klik link : Perencanaan Jalan